Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 06 Juli 2018

Kisah Keajaiban sholawat ke tiga

Waktu itu saya sudah lulus kuliah S1. Malu dong setelah lulus kuliah masih minta uang saku ke orang tua. Berhubung waktu itu saya belum bekerja, maka tak jarang saya pun makan sehari sekali, bahkan pernah juga makan 2 hari sekali, karena saking bener bener tidak punya uang. Ngelamar kerja ke sana kemari belum ada panggilan. Sekali dapat paggilan ternyata gajinya sebulan 250 ribu. Tentu saya tolak, karena uang 250rb hanya cukup untuk bayar kosan saja. Belum biaya bensin, biaya pulsa, biaya makan, dan sebagainya.
Kisah Keajaiban sholawat ke tiga

Berhari hari saya pun merasa kemut kemut. Setelah berkali kali menempuh jalan dunia, dengan ngelamar kerja kesana kemari, akhirnya saya bosan. Dan akhirnya saya menempuh jalan riyadhoh. Setiap hari yang saya kerjakan tidak lain hanya duduk dikosan, sambil bersholawat mohon benar2 agar dikasih kerjaan. 2 minggu saya lakukan itu, akhirnya saya ketrima kerja di UMY.

Ketrima kerja kan biasa. Mungkin kalian akan berkata seperti itu. Tidak ini tidak biasa. Dalam sarat penerimaan kerja itu tertuliskan pelamar harus punya kartu muhammadiyah, sedangkan saya nggak punya, aktif di muhammadiyah, boro boro aktif saya waktu itu pun nggak tau bagaimana sepak terjang dan perjuangan muhammadiyah. Karena memang saya dilahirkan dan disekelohkan di lingkungan NU, sehingga nggak tau apa apa tentang muhammadiyah. Kemudian pada saat tes wawancara, saya pun ditanya seputar tokoh tokoh muhammadiyah, tentu saya tidak mengetahui, karena memang tidak pernah belajar dan membaca tentang itu.

Tapi alhamdulilah berkat riyadhoh, alhamdulilah saya diterima walaupun jauh dari yang disyaratkan oleh UMY.

0 komentar:

Posting Komentar